NUZUL AL-QUR’AN DAN JAM’U AL-QUR’AN PADA MASA NABI
A. Pembahasan
1. Pengertian nuzul Al-Qur’an
Nuzul secara harfiah artinya turun,
sebagaimana disebutkan dalam Mufradat, Misbah wal Aqrab. Raghib dalam memaknai
nuzul berkata, “al-Nuzul fii al-ashl: huwa inhitat min ‘ulu’ (Nuzul aslinya
bermakna turunnya sesuatu dari atas).
öNçFRr&uä çnqßJçFø9tRr& z`ÏB Èb÷ßJø9$# ÷Pr& ß`øtwU tbqä9Í\ßJø9$# ÇÏÒÈ
"Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang
menurunkan? " (Q.S. al waqi’ah : 69)
$uZø9tRr&ur yÏptø:$# ÏmÏù Ó¨ù't/ ÓÏx© ßìÏÿ»oYtBur Ĩ$¨Z=Ï9
"…Dan
Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai
manfaat bagi manusia ...." (Q. S. Al hadid : 25)
Secara etimologi, asbab an-nuzul adalah
sebab-sebab yang melatar belakangi terjadinya sesuatu. Meskipun segala fenomena
yang melatarbelakangi terjadinya sesuatu bisa sebut asbab an-nuzul, namun dalam
pemakaiannya, ungkapan asbab an-nuzul khusus di pergunakan untuk menyatakan
sebab-sebab yang melatabelakangi turunnya Al-qur’an, seperti halnya asbab
al-wurud yang secara khusus digunakan bagi sebab-sebab terjadinya hadist.[1]
Kata "anzalnaa" yang
berarti "kami turunkan" khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini,
dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk
memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah
kata ini, yakni " inhitat min ‘ulu’ ", kita akan
menyadari bahwa ayat ini memiliki nilai ilmiah yang sangat penting. Ini
dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang
ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.[2]
2. Proses nuzul Al-Qur’an dan hikmahnya
Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan
bahwa nuzul Al-Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an dari Allah SWT kepada nabi
Muhammad saw. Manna’ Khalil al-Qattan dalam mabaahits
fii Ulum Al- Quran membagi menjadi
2, yaitu :
a. Turunnya Al-Qur’an sekaligus
Firman Allah dalam surat al baqarah : 185
ãöky tb$ÒtBu üÏ%©!$# tAÌRé& ÏmÏù ãb#uäöà)ø9$# Wèd Ĩ$¨Y=Ïj9 ;M»oYÉit/ur z`ÏiB 3yßgø9$# Èb$s%öàÿø9$#ur 4
“ bulan Ramadan, bulan yang
di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda..”
Dan surat al qadr : 1
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû Ï's#øs9 Íôs)ø9$# ÇÊÈ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al
Qur'an) pada malam kemuliaan”
Dan surat ad-Dukhaan : 3
!$¯RÎ) çm»oYø9tRr& Îû 7's#øs9 >px.t»t6B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ÍÉZãB ÇÌÈ
“sesungguhnya
Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi..”
Ketiga ayat diatas menunjukkan bahwa
Al-Qur’an diturunkan pada malam lailatul qadr atau malam yang diberkahi pada
bulan ramadhan. Namun sebagaimana kita ketahui, Al-Qur’an diturunkan kepada
nabi Muhammad saw secara bertahap dalam kurun waktu lebih kurang 23 tahun.
Dalam hal ini Manna’ al Qattan membagi
pendapat ulama menjadi beberapa mazhab. Pertama,
kata nuzul disini berarti turunnya
Al-Qur’an secara keseluruhan ke bait al
izzah di langit dunia, kemudian baru diturunkan kepada nabi Muhammad saw
secara bertahap
وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ
عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا
“Dan Al Qur'an itu telah Kami
turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada
manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.”
Kedua, turunnya
Al-Qur’an pada malam tersebut merupakan awal dari nuzul Al-Qur’an, selanjutnya
diteruskan selama 23 tahun.
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ
الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا
وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ
وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا
“Berkatalah orang-orang yang
kafir: "Mengapa Al Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun
saja? demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya
secara tartil (teratur dan benar).
Tidaklah orang-orang kafir
itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan
kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.”
Ketiga, al quran diturunkan selama 23 tahun pada malam lailatul qadr di tiap
tahunnya. Namun pendapat ketiga ini hanya ijtihad dari sebagian ulama, dan
tidak berdasarkan dalil yang jelas.[3]
Jalaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, dalam Al-Itqan menyebutkan, terdapat ikhtilaf
dalam cara turunnya Al-Qur’an dari lauhul mahfudz, dan pendapat yang paling
shahih adalah: Al-Qur’an diturunkan ke “langit dunia” pada malam lailatul qadr
secara keseluruhan, kemudian diturunkan secara bertahap setelahnya selama lebih
kurang 23 tahun.[4]
b. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap.
Proses yang kedua ini Al-Qur’an
diturunkan secara bertahap dari langit dunia ke dalam hati nabi Muhammad saw
secara berangsur-angsur selama 23 tahun.[5]
Firman Allah dalam surat Al-Syu’ara : 192-195
وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأمِينُ
عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ
بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ
“Dan sesungguhnya Al Qur'an
ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam(192)dia dibawa turun oleh
Ar-Ruh Al Amin (Jibril)(193) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah
seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan(194) dengan bahasa Arab
yang jelas(195) “
Dan dalam surat Al-Baqarah :
23
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى
عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ
“Dan jika kamu (tetap) dalam
keraguan tentang Al Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad),
buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur'an itu..”
Dan surat Al-Baqarah: 97
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ
نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ
وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
“Katakanlah: Barang siapa
yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur'an) ke
dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya
dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.”
Dari ayat-ayat diatas, Manna
al qattan menyimpulkan bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah yang lafadznya
berbahasa Arab, dan Jibril yang telah menyampaikannya ke dalam hati Rasulullah,
dan turunnya ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an ini diturunkan secara
berangsur-angsur, bukan seperti turunnya pertama kali ke langit dunia.[6]
Jadi, Al-Qur’an diturunkan
“bertahap” setelah turunnya pertama kali ke langit dunia secara keseluruhan
pada malam lailatul qadr di bulan ramadhan. Sebagian ulama berpendapat, itu
terjadi selama 23 tahun. 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di Madinah. Sebagian
lain berpendapat turunnya secara bertahap itu selama 25 tahun, dan sebagian
lain 20 tahun. Namun pendapat yang kuat
menurut Manna al Qattan adalah 23 tahun, 13 tahun di Makkah, dan 10 tahun di
Madinah.
Hikmah diturunkan Al-Qur’an secara
bertahap :
1. Agar lebih mudah dimengerti dan
dilaksanakan. Orang akan enggan melaksanakan suruhan, dan larangan sekiranya
suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus banyak. Hal ini disebutkan oleh
Bukhari dari riwayat Aisyah ra.
2. Diantara ayat-ayat tersebut ada yang
nasikh dan mansukh
3. Turunnya suatu ayat sesuai dengan
peristiwa yang terjadi akan lebih mengesankan dan lebih berpengaruh di hati.
4. Memudahkan penghafalan. Orang-orang
musyrik yang telah menyakan mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus,
sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan : 32
5. Diantara ayat-ayat ada yang merupakan
jawaban dari pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan,
sebagaimana dikatakan oleh ibnu Abbas ra. Hal ini tidak dapat terlaksana kalau
Al-Qur’an diturunkan sekaligus.
Ulama berbeda pendapat mengenai ayat yang
pertama diturunkan. Pendapat pertama
yang shahih menurut Assuyuti adalah ayat pertama surat al ‘alaq,
Berdasarkana hadits yang
diriwayatkan oleh syaikhani, dan yang lain.Aisyah r.a. berkata, "yang pertama (dari wahyu)
kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak
pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya
subuh. Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira.
Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada
keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada
Khadijah. Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya
(dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. Ketika
beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau
berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya
sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata, 'Bacalah!'
Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan
mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, lalu ia berkata,
'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia
mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya.
Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana
min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana
maa lam ya'lam. 'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia
telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Lalu Rasulullah saw. pulang dengan
membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan
tubuh gemetar).[8]
Pendapat kedua, yang pertama kali turun adalah firman Allah :
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ
Berdasarkan hadits yang
diriwayatkan Syaikhani : Dari Abu salamah bin Abdurrahman; dia berkata: “Aku
telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Yang manakah diantara Quran itu yang
turun pertama kali? Dia menjawab: Ya
Ayyuhal Mudatsir. Aku bertanya lagi: ataukah Iqra bismi rabbik? Dia menjawab: aku katakana kepadamu apa yang
dikatakan Rasulullah saw kepada kami: “sesungguhnnya aku berddiam diri di gua
Hira, maka ketika habis maasa diamku, aku tuun lalu aku telusuri lembah. Aku
lihat ke muka, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Lalu aku lihat ke langit, tiba-tiba
aku melihat jibril yang amat menakutkan. Maka aku pulang ke khadijah, khadijah
memerintahkan mereka untuk menyelimutiku. Merekapun menyelimuti aku. Lalu Allah
menurunkan : ‘Wahai orang yang
berselimut; bangkitlah, lalu berilah peringatan.’ ”[9]
Mengenai pendapat kedua ini,
Jabir menjelaskan bahwa yang pertama kali turun secara penuh adalah surat
al-Mudatsir, sebelum surat Al-‘Alaq tuntas diturunkan. Dan surat Al-mudatsir
turun setelah sekian lama wahyu terhenti turunnya. Jadi bisa kita ambil kesimpulan
bahwa ayat yang pertama turun adalah Iqra
dan surat yang pertama turun untuk risalah adalah Al-mudatsir.
Ibnu Hajar al atsqalani dalam
Fathul Baari mengatakan mengenai masa
tidak turunnya wahyu. Dalam kitab sejarah karangan Ahmad bin Hanbal terdapat riwayat
dari Sya’bi yang mengatakan, bahwa masa tidak turunnya wahyu adalah 3 tahun,
pendapat ini dikuatkan oleh ibnu Ishaq.[10]
Pendapat lain, surat yang pertama kali
turun adalah surat Al- Fatiha. Ada juga yang berpendapat yang pertama kali
turun adalah Bismillahirrahmaanirrahiim.
Akan tetapi dalil yang mendukung kedua pendapat ini hadits-hadits Mursal.
Sedangkan surat yang terakhir
turun, juga ada beberapa pendapat, antara lain :
1. Ayat yang terakhir turun
adalah tentang riba. Sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari dari ibn Abbas, ia
berkata : “Ayat yang terkhir turun adalah tentang riba” maksudnya adalah surat
An- nisa 176
2. Dikatakan pula, yang terakhir
turun adalah surat at-taubah
3. Metode jam’u Al-Qur’an pada masa Nabi
Jam’ul-Qur`ân artinya pengumpulan
al-Qur`an. Maknanya mencakup dua pengertian, seiring dengan prosesnya itu
sendiri, yakni hifzhuhu; penghafalan dan kitâbatuhu kullihi; penulisannya
secara keseluruhan.[11] As-Shabuniy membahasakannya al-jam’ fis-shudûr; pengumpulan dalam dada
dan al-jam’ fis-suthûr; pengumpulan
dalam tulisan[12]
Di sini kita perlu memperhatikan
penggunaan kata ‘pengumpulan' bukan ‘penulisan'. Dalam komentarnya, al-Khattabi
menyebut, "Catatan ini memberi isyarat akan kelangkaan buku tertentu yang
memiliki ciri khas tersendiri. Sebenarnya, Kitab Al-Qur'an telah ditulis
seutuhnya sejak zaman Nabi Muhammad. Hanya saja belum disatukan dan surah-surah
yang ada juga masih belum tersusun."[13] Penyusunan Al-Qur'an dalam satu jilid utama (master
volume) boleh jadi merupakan satu tantangan karena nasikh mansukh yang
muncul kemudian dan perubahan ketentuan hukum maupun kata-kata dalam ayat
tertentu memerlukan penyertaan ayat lain secara tepat. Hilangnya satu format
halaman akan sangat merendahkan penyertaan ayat-ayat yang baru serta surahnya
karena wahyu tidak berhenti untuk beberapa saat sebelum Nabi Muhammad
wafat. Dengan wafatnya Nabi Muhammad berarti wahyu berakhir untuk selamanya.
Tidak akan terdapat ayat lain, perubahan hukum, serta penyusunan ulang. Ini
berarti kondisi itu telah mapan dalam waktu yang tepat guna memulai penyatuan
Al-Qur'an ke dalam satu jilid. Tidak ada keraguan yang dirasakan dalam
pengambilan keputusan dan kebijaksanaan dan bahkan telah memaksa masyarakat
mempercepat pelaksanaan tugas ini. Allah swt. memberi bimbingan para sahabat
dalam memberi pelayanan terhadap AlQur'an sebagaimana mestinya memenuhi janji
pemeliharaan ' selamanya terhadap Kitab-Nya,[14]
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ
لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang
menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”
Ibn Hajar al-’Asqalaniy sedikit berbeda
memaknai Jam’ul-Qur`ân. Menurutnya, walaupun al-jam’ bisa bermakna al-hifzh,
tapi dalam kaitannya dengan proses pengumpulan al-Qur`an, maknanya menjadi
khusus, yakni mengumpulkan al-Qur`an ke dalam shuhuf di zaman Abu Bakar dan
mengumpulkannya kembali ke dalam mushhaf di zaman ‘Utsman. Hal ini didasarkan
pada tarjamah al-Bukhariy dalam kitabnya, al-Jâmi’ as-Shahîh, ditambah sebuah
pernyataan Zaid ibn Tsabit: "Saat Nabi Muhammad wafat, Al-Qur'an masih
belum dirangkum dalam satuan bentuk buku."[15]
Sebagaimana di atas, proses Jam’ul-Qur`ân
di masa Nabi Saw mencakup dua kegiatan, yaitu penghafalan dan penulisan. Kegiatan penghafalan itu terdapat dalam
hadits berikut ini:
Dari Ibn ‘Abbas perihal firman Allah
Ta’ala “Janganlah kau menggerakkan lisanmu karena tergesa-gesa”: Rasulullah Saw
merasa berat ketika turun wahyu sampai beliau menggerak-gerakkan kedua
bibirnya. Lalu Allah Ta’ala berfirman: “Janganlah kau gerak-gerakkan lisanmu
karena tergesa-gesa. Sesungguhnya tangung jawab kami mengumpulkannya dan
membacakannya.” Ibn ‘Abbas berkata: Yaitu mengumpulkannya dalam dadamu dan kau
mampu membacanya. “Maka apabila Kami membacakannya, maka ikutilah bacaannya.”
Yaitu perhatikanlah dan diamlah. “Kemudian sesungguhnya tanggung jawab kami
menjelaskannya.” Yaitu, sesungguhnya tanggung jawab kami kau dapat
membacakannya. Maka Rasul Saw setelah itu apabila Jibril datang kepadanya,
beliau menyimaknya. Dan apabila Jibril telah pergi, Nabi Saw membacakannya
sebagaimana Jibril membacakannya[16]
Jelas sekali dalam riwayat tersebut jam’
bermakna hafalan. Dan Nabi Saw melakukannya dengan jaminan penuh dari Allah Swt
akan keakuratannya. Selain itu, Nabi Saw juga menggiatkan para shahabat untuk
bisa membaca al-Qur`an di luar kepala.
Penulisan. Saat wahyu turun, Nabi Muhammad secara rutin
memanggil para penulis yang ditugaskan agar mencatat ayat itu. Zaid bin Thabit
menceritakan sebagai ganti atau mewakili peranan dalam Nabi Muhammad, la sering
kali dipanggil diberi tugas penulisan saat wahyu turun.[17]
Sewaktu ayat al-jihad turun, Nabi Muhammad memanggil Zaid bin Thabit membawa
tinta dan alat tulis dan kemudian mendiktekannya; 'Amr bin Um-Maktum al-A'ma
duduk menanyakan kepada Nabi Muhammad, "Bagaimana tentang saya? Karena
saya sebagai orang yang buta." Dan kemudian turun ayat, "ghair uli
al-darar" [18](bagi
orangorang yang bukan catat). Tampaknya tak ada bukti pengecekan ulang setelah
mendiktekan. Saat tugas penulisan selesai, Zaid membaca ulang di depan Nabi
Muhammad agar yakin tak ada sisipan kata lain yang masuk ke dalam teks.[19]
Di samping itu sebagian sahabat juga menuliskan Al-Qur’an yang turun itu atas
kemauan mereka sendiri, tanpa diperintahkan oleh nabi. Mereka menuliskannya
pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana,
potongan tulang belulang binatang. Zait bin Tsabit berkata: “ Kami menyusun
Quran dihadapan Rasululah pada kulit binatang”[20]
4. Faktor-faktor pendorong jam’u Al-Qur’an
pada masa Nabi
Pada masa nabi Muhammad saw jam’u
Al-Qur’an belum sepenuhnya didasari oleh kesadaran umat atau sahabat untuk
mengkodifikasikan Al-Qur’an. Hal ini disebabkan oleh keberadaan nabi itu
sendiri di tengah umatnya. Sehingga setiap persoalan yang dihadapi selalu bisa
ditemukan solusinya lansung kepada rasulullah. Bisa dikatakan jam’u Al-Qur’an
di masa Nabi tersebut merupakan perintah lansung dari nabi Muhammad saw, baik
penghafalan maupun penulisan. Hal ini tidak terlepaas dari firman Allah
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ
لَحَافِظُونَ
[2]
Harun Yahya, Keajaiban Al-Quran (ebook:
www.keajaibananlquran.com)
[3]
Manna’ Khalil Al-Qattan, Mabahits fi
‘ulum al- Quran,( Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M) h.
101-103
[4]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 57
[5]
Syekh Muhammad ‘Ali As-shabuni, At-Tibyan
fi ‘Uluum Al-Quran. (Indonesia: Dar al-kutub Al- Islamiyyah, 1424 H/2003 M)
h. 34
[6]
Manna’ Khalil Al-Qattan, Mabahits fi
‘ulum al- Quran,( Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M) h.
105
[7]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 33
[8]
Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (e.book:
haditsWeb 3.0)
[9]
Manna’ Khalil al-Qattan, Terjemahan Drs. Mudzakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2004) Cet. 8,
h. 90-91
[10]
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, terjemahan Ghazirah Abdi Ummah, Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari, (Jakarta selatan : Pustaka
Azzam, 2002) h. 44
[11]
Manna’ al-Qaththan, Mabahits fi ‘Ulum
al-Qur`an, (Riyadl : Mansyurat al-’Ashr al-Hadits, 1393 H/1973 M), h.
118-119
[12]
Muhammad ‘Aliy as-Shabuniy, at-Tibyan fi
‘Ulum al-Qur`an, (Beirut : ‘Alam al-Kutub, 1405 H/1985 M), h. 49
[13]
Jalaaluddin Al-Suyuti Al-Syafi’I, Al-Itqan
fi ‘Ulum Al-Quran. (Beirut: Dar el-Fikr, 1425-1426 H) h. 164
[14]
Prof. Dr. M. M A’zami, The History of The
Quranic Text from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[15]
Ahmad ibn ‘Aliy ibn Hajar al-’Asqalaniy, Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhariy,
(ebook,Beirut : Dar al-Fikr, 1420 H/2000 M), Jilid 10, h. 13
[16]
Ibnu Hajar Al-Atsqalani, terjemahan Ghazirah Abdi Ummah, Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari, (Jakarta selatan : Pustaka
Azzam, 2002) h. 47
[17] Prof. Dr. M. M
A’zami, The History of The Quranic Text
from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS
ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[18] Al-quran, 4:95
[19] [19] Prof. Dr. M. M
A’zami, The History of The Quranic Text
from revelation to compilation, (ebook: UNIVERSITAS
ISLAM INTERNATIONAL MALAYSIA (UIIM), 2005)
[20] Manna’
Khalil al-Qattan, Terjemahan Drs. Mudzakkir AS, Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2004) Cet. 8,
h. 185-186
Tidak ada komentar:
Posting Komentar